Celebrity Wedding

Prolog (1)

Seperti biasa, hari jumat adalah hari paling sibuk sepanjang minggu karena semua org mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan mereka agar bs mendapatkan weekend off. Ina sedang berusaha sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaannya supaya bs menghadiri acara Ultah ke-18 Gaby besok malam. Gaby adlh keponakannya yg paling besar, anak kakak Mabel, kakak tertuanya. Dia sudah terbiasa ketinggalan acara keluarga seperti ini karena bekerja di slh satu kantor akuntan publik terbesar di Jakarta. Dgn pekerjaan yg seabrek dan jam kerja yg tdk menentu, dia bahkan bingung bagaimana dia bs bertahan di firm ini selama 6thn belakangan. Padahal firma ini jelas sudah memperbudaknya dgn tdk memberinya kesempatan untuk bersosialisasi dgn dunia di luar pekerjaan.

Dia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia menghadiri acara ultah Gaby. Tp stelah beberapa menit otaknya msh kosong, dia merasa menjadi tante paling parah di seluruh dunia ini. Tidak, tdk kali ini, ucapnya dlm hati dgn penuh tekad. Dia sudah berjanji kepada keponakannya untuk menghadiri pestanya dan dia akan memastikan bahwa dia akan menepati janji itu. Karena seseorang hanya akan merayakan ultah ke-18 mereka sekali seumur hidup dan juga karena Gaby sudah menerornya selama beberapa hari ini untuk memastikan bahwa dia tdk lupa akan janjinya.

Prolog (2)

Ina mengerutkan dahi dan kembali menaruh perhatian kepada berkas-berkas yg baru saja diserahkan oleh salah satu seorang senior associate kepadanya. Jam di laptop sudah menunjukkan pukul tiga sore dan deretan kata dan angka yg tertera pada dokumen yg kini ada di hadapannya mulai agak kabur. Sedetik kemudian telepon kantornya berbunyi.
Dia mengangkatnya dan berkata, “Inara,” tanpa melepaskan tatapannya pada apa yg sedang dia baca.
“Hey, u can come into conference room two for a second?” Terdengar suara bosnya.
“Sure, be there in a bit,” ucap Ina singkat. Meskipun semua partner punya personal assistent, tp pak Sutomo memang lbh suka untuk berbicara langsung dgnnya, terutama untuk hal-hal yg dianggapna priority.
Ina menutup laptopnya dan membawanya bersamanya. Dia berjalan keluar ruangandan memberitahu Helen, personal assistant-nya dimana dia akan berada selama satu jam ke depan. Beberapa associate dan assistant kantornya terlihat berkeliaran di sekitar Conference Room II yg berdinding kaca ketika dia akan memasuki ruangan itu. Ina cuma mengangkat kedua alisnya melihat keadaan ini. Pada nggak pernah liat orang meeting apa? Pikirnya dlm hati sambil membuka pintu kaca itu.
” You need me?” Tanya Ina pada pak Sutomo yg duduk di ujung meja bundar berukuran sedang yg memenuhi ruangan itu. Kantor tempatnya bekerja memiliki delapan ruang pertemuan dgn ukuran yg berbeda-beda, Confarence Room II adalah g terkecil.
“Nah, ini dia orangnya,” kata2 pak Sutomo, lgsg membuat Ina waswas. Tp sbelum dia bs mencerna lbh lanjut, beliau sdh berkata-kata lagi. “Inara, kenalkan, ini klien baru kita,” ucap pak Sutomo sambil berdiri dan tangannya mempersembahkan seorang laki-laki yg tadinya duduk membelakangi Ina tp skrg menghadap kepadanya. Dan dia adalah………. Revelino Darby, penyanyi laki-laki paling berbakat, paling seksi, dan paling sering digosipkan di Indonesia. Sadarlah Ina skrg knapa banyak orang berkeliaran di sekitar ruang pertemuan ini.

BAB 1 » The Celebrity

“Ina, tentunya kmu kenal dgn Revelino Darby, musisi paling berbakat and the most eligible bachelor in town,” ucap pak Sutotmo dgn antusias.

Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja Ina, juga seluruh Indonesia, tahu siapa Revel. Mr. Playboy of the year g baru2 ini digosipkan sdh melamar Luna, pacarnya yg model dan jg selebriti wanita paling dicintai se-Indonesia itu karena mereka tertangkap basah lg shopping cincin.

“Inara,” ucap Ina sambil buru2 meraih tangan yg disodorkan oleh Revel. Genggaman tangan Revel terasa kuat dan pasti.

Ina bukanlah fans musik Revel, dlm arti dia tdk pernah beli CD-nya, tp dia tdk keberatan mendengar lagu-lagunya diputar di radio atau menonton video klipna di MTV. Aliran musik Revel yg merupakan pencampuran antara pop rock dan R&B cukup enak didengar dgn lirik dan nada yg mudah diingat. Sekarang Revel membiarkan rambutnya dipotong pendek, tp dulu rambutnya panjang dgn dreadlock ala Lenny Kravitz. Biasanya dia tdk suka laki2 berkulit terlalu putih, tp dy bahkan tdk pernah memperhatikan bahwa warna kulit Revel nyaris kelihatan seperti orang albino karena dia dan hampir seluruh wanita di Indonesia yg berumur di antara 18 hingga 60 tahun sdh terlalu terkesima dgn aura Revel. Aura yg skrg dirasakannya sedang menyerangnya dgn kekuatan penuh tanpa dibatasi oleh layar TV, alhasil dia tdk bs mengalihkan perhatiannyA dr wajah Revel.

“Revel,” ucap Revel sambil tersenyum. Melihat senyum itu Ina hrs mengingatkan dirinya untuk kembali bernapas. Dia sering melihat senyum itu di TV dan dia selalu berpendapat bahwa senyuman itu menarik, tetapi saat melihatnya langsung dgn mata kepalanya sendiri ternyata kata “menarik” tdk cukup untuk menggambarkan apa yg ada di hadapannya.

“Ini pak Siahaan, pengacaranya Revel dan pak Danung, managernya Revel,” pak Sutomo memperkenalkan kedua orang yg berdiri mengapit Revel. Ina buru2 melepaskan tangannya dr genggaman Revel dan menyalami kedua bapak itu sebelum kemudian duduk di kursi sbelah kiri pak Sutomo dan berhadapan dgn Revel.

“Boleh kita lanjut?” Tanya pak Sutomo pada Revel yg skrg sedang memandangi Ina, yg berusaha sebisa mungkin menghindari tatapannya dgn mengatur posisi laptopnya.

Revel menahan senyum melihat tingkah laku Ina. Beberapa detik yg lalu Ina kelihatan hampir melongo menatapnya, dan skrg justru mencoba sedaya-upaya untuk menghindari tatapannya. Mmmhhh…. Interesting… Revel mengambil inventori penampilan Ina, mulai dr ujung rambut hingga jari2 tangannya yg kurus, berkuku pendek, dan bebas dr cincin. Ukuran tangan Ina kemungkinan hanya separo dr ukuran tangannya.

Dengan tinggi 180cm, berat 75kg dan ukran sepatu 44, Revel bs dikategorikan sebagai raksasa untuk laki2 Indonesia. Meskipun begitu, tubuhnya sgt proposional dan kebanyakan orang tdk akan tahu bahwa dia setinggi ini smp mereka bertemu dengannya secara langsung.

Sekali lagi Revel tersenyum pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa selama lima menit belakangan ini perhatiannya sedang terpaku pada tangan Ina yg kecil itu. Sejujurnya Revel tdk menyangka bahwa “ibu Ina” yg dipuji-puji oleh Oom Bob ternyata adalah seorang wanita sebaya dirinya g berukuran superkecil, tp kelihatan super-smart dan sedikit cute kalau saja dia mau mengoleskan sedikit make-up pada wajahnya yg pucat itu.

“Manajemen Revel specially minta kmu sebagai account holder mereka atas saran dr pak Bob,” jelas pas Sutomo kepada Ina.

Bob Yahya, seorang pembawa acara senior yg kini merangkap sebagai pengusaha dlm berbagai bidang adalah salah satu klien terlama Ina. Mmmhhh….. Pak Bob tdk pernah bercerita kepadanya bahwa dia mengenal Revel. Lalu ia sadar bahwa pak Sutomo msh berbicara dan dia memfokuskan perhatiannya kembali pada meeting ini. “Tapi karena kmu sudah memegang jumlah klien yg maksimum…..”

Maksimum? Ina tertawa dlm hati. Kata2 yg lebih tepat adalah “sudah jauh melebihi batas maksimum”. Dasar pak Sutomo, kalau sudah urusan bullshit paling jagonya. Dia mencoba untuk menahan senyum yg mulai terasa di sudut bibirnya karena ketika dia melirik, pak Sutomo yg sedang memandangnya dgn tajam. Ina pun mencoba mangatur ekspresi wajahnya agar kembali serius. Selama pak Sutomo menjelaskan tentang latar belakang Ina, Revel membisikkan sesuatu pada pengacaranya.

“Maaf, pak Sutomo, tp revel lebih memilih ibu Inara sebagai account holder-nya,” potong pak Siahaan dgn nada yg terlalu tegas, sehingga terdengar agak2 tdk sopan.

Ina sempat ternganga mendengarnya. Tdk pernah ada orang yg berani membantah pendapat pak Sutomo, atau menggunakan nada bicara sperti itu dgn beliau. Revel memandanginya dgn tatapan yg tdk bs dibaca. Dia sudah bersiap-siap untuk membela kedudukan pak Sutomo, tp beliau telah membaca gelagatnya dan mencoba untuk menengahi.

“Ina…… bagaimana menurut kmu? Apa kmu mampu?”

Ina melongo beberapa saat, bingung mencari kat2 untuk menjawabnya. Mampu sih mampu, cuma masalahnya adalah apakah dia mau. Karena kalau kumlah kliennya ditambah lagi, itu brarti dia akan semakin tdk memiliki kehidupan di luar kantor. Dia menarik napas dalam2 dan menatap mata Revel.

Revel agak terkejut ketika sadar bahwa Ina sedang menatapnya bulat2. Lain dgn tatapan byk wanita yg baru pertama kali bertemu dengannya, tatapan Ina tdk terlihat flirty atau malu-malu. Revel mengerutkan dahi, sedikit bingung dan kesal karena Ina spertinya tdk bereaksi sperti wanita pada umumnya, dan Ina menginterpretasikan tatapan Revel sebagai suatu ejekan, dan dia langsung mengemukakan pendapatnya.
“Pak Revel…..”
“Revel,” ucap Revel memotong kalimat Ina.
“Excuse me?” Tanya Ina otomatis dan menatap Revel bingung.
“Nama saya Revel. Nggak usah pakai ‘Pak’, saya blm setua itu,” jawab Revel sambil membalas tatapannya.

Revel hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat permainan emosi pada wajah Ina yg pada detik itu tahu bahwa dia baru saja dihina oleh dirinya. Tentunya sebagai seorang profesional, Ina hanya tersenyum dan menggangguk. Revel mengharapkan Ina akan memakinya dan agak sedikit kecewa ketika dia menyerah begitu saja.

BAB 1 (3) » The Celebrity

“Revel…” Ina berhenti sesaat untuk merasakan nama itu pada lidahnya. Ternyata enak jg, kemudian dia melanjutkan, ” Sebagai account holder, kami ada batas maksimum jumlah klien yg bs kami pegang, karena kami ingin memastikan bahwa stiap klien mendapatkan perhatian dan perlakuan yg sama…”

“Jadi ibu menolak Revel sebagai klien?” Tanya pak Siahaan dgn nada tenang tp membuat Ina ingin melemparkan laptopna ke muka pengacara itu.

Ina melirik ke arah pak Sutomo dan beliau langsung masuk kembali ke dalam pembicaraan.

“Maksudnya Ina bkn begitu , pak Siahaan, tp saa rasa Revel akan lebih terjamin klo ditangani oleh Marko atau Hanafi, junior partner kami yg jadwalnya agak lebih terbuka,” pak Sutomo mencoba untuk menenangkan suasana yg mulai agak memanas.

“Pak Sutomo, maaf sbelumnya, tp kedatangan kami hari ini adalah untuk memberitahukan bahwa pihak manajemen Revel bersedia untuk do business dgn firm ini, dgn syarat bahwa account holder-nya adalah ibu Inara Hanindita. Kami tadinya sudah bersedia settle dgn akuntan publik lain, tp atas rekomendasi dr pak Bob, kami memilih firm ini. Tp klo misalna permintaan ini tdk bs dipenuhi, kami bs cari akuntan publik lain.”

Ina betul2 tdk bs berkata-kata lg mendengar pernyataan ini. Diskusi antara pak Sutomo dan pak Siahaan pun berlanjut, membicarakan nasibnya sebagai account holder Revel, seakan-akan dia tdk ada di dalam ruangan itu bersama mereka. Dia memperhatikan Revel yg kini terlihat agak bosan, dan diatdk bs menyalahkannya. Jujur saja, klo dia sendiri stuck di dalam percakapan yg sama sekali dia tdk mengerti, dia pasti sudah memaparkan wajah yg tdk jauh dr wajah Revel skrg.

Ina benar, Revel bosan dgn meeting ini. Dia tdk mengerti knapa pak Danung bersikeras bahwa dia harus ikut padahal dia akan merasa lbh produktif klo sekarang mengurung dirinya di studionya untuk merampungkan aransemen lagu yg baru ditulisnya semalam. Revel melihat Ina menyandarkan punggungnya ke kursi dan kelihatan agak2 khawatir. Entah apa yg dipikirkannya.

Jarum jam tangan Ina sudah mendekati angka empat. Dia mulai memikirkan semua pekerjaan yg msh harus dia selesaikan sbelum meninggalkan kantor. Lima belas menit kemudian meeting itu blm selesai juga. Ketika dia melirik jam tangannya untuk yg ketiga kalina dlm kurun waktu stengah jam, Revel menegurnya.

“Do you need to be somewhere?” Tanyanya dgn nada tenang tp cukup keras. Pak Sutomo dan pak Siahaan langsung terdiam dan menatap Ina.

Ina memutar otaknya, mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu dan tdk dapat menemukan kata2 yg tepat. Well… mungkin dia bs menemukan kata2 yg tepat, tp tdk kata2 yg sopan. Untungnya pak Sutomo menyelamatkannya sbelum dia mulai menyuarakan beberapa kata yg ada di kepalanya. Dia yakin tdk satu pun dr kata2 itu akan menyelamatkannya dr talak “You’re fired” ala Donald Trump. “Gentleman, saya akan discuss hal ini dgn Ina lebih lanjut. Saya yakin kita bs work something out.”

Ina memandangi pak Sutomo bingung, tdk biasanya beliau mengikuti kemauan klien smp sespesifik ini. “Kalau memang Revel hrs ditangani oleh Inara, then she is the person to do it.”

Whoaa! Wait a second. Apa aku tdk akan diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapatku? Ina mengumpat dlm hati.

“Good.” Jwb pak Siahaan puas.

“Gimana klo Ina datang ke kantor Revel minggu depan?” Lanjut pak Sutomo.

Huh! Sudah bikin janji, padahal aku tdk tahu dimana kantor Revel, lanjut Ina mengomel dlm hati. Yg lebih penting lagi, knapa juga mereka menyebutnya sebagai “kantor Revel” seakan2 Revel-lah pemilik kantor itu.

“Lebih cepat lebih baik, Pak. Besok juga boleh,” jwb pak Danung, untuk pertama kalinya mengeluarkan suara.

Tanpa bs menahan diri, Ina sudah berbicara. “Sebetulnya klo besok saya nggak bisa.”

Keempat laki2 yg ada di ruangan itu langsung melihat ke arahnya, kaget. Mungkin karena nadanya atau mungkin karena bantahannya, dia tdk tahu. Ina menggigit lidahnya.

“Memangnya kmu ada acara besok?” Tanya Revel, sebisa mungkin terdengar cuek, tetapi sejujurnya dia memang ingin tahu apa yg akan dikerjakan wanita kecil ini besok. Apa dia ada rencana dgn pacarnya? Suaminya? Nggak, nggak mungkinsuami, dia tdk mengenakan cincin kawin. Ketika Revel menyadari bahwa dia sedang memikirkan tentang status single atau tidaknya wanita g kemungkinan akan menjadi akuntannya, dia langsung berhenti.
“Iya, saya ada acara.” Akhirnya Ina bisa berbicara dgn nada penuh kejengkelan yg terpendam. Dia hrs mengambil kue untuk Gaby dari Harvest, itulah sebabnya dia nggak bs dateng ke kantor Revel besok.

“Can you reschedule?” Ina mendengar suara pak Sutomo bertanya.

“What?” Tanya Ina.

“Acara kmu besok bs di-reschedule?” Ulang pak Sutomo sambil menatapnya tajam. Oh this is not good! Ina tahu nada itu yg pada dasarnya mengatakan bahwa dia “harus” reschedule bukan “bisa”.

“Oh…. ya…. ya…. bisa,” ucap Ina terbata-bata.
Revel mencoba untuk menebak apa yg ada di pikiran Ina pada saat itu karena dia kelihatan sperti orang yg akan dihukum mati. Tebakan Revel cukup mengena karena Ina sedang berpikir bahwa kak Mabel akan membunuhnya.

Ina mencoba tetap menumpukan perhatiannya pada pak Sutoma dan pak Siahaan karena dr sudut matanya dia melihat Revel sedang memperhatikannya. Untuk lebih meyakinkan mereka, ina menambahkan, “pak Sutomo, saya rasa saya msh hrs di-briefing dulu untuk hal ini,” lanjutnya sambila menghadap ke pak Sutomo dan tdk menghiraukan Revel.

Pak Sutomo mengangguk da Revel berkata, “Oke, saya tunggu kmu besok di kantor saya.”

Mau tdk mau ina hrs menatap Revel ketika memberikan anggukannya. Revel sudah berbicara padanya dgn menggunakan kata “kamu” daripada “Ibu Inara”. Ina mencoba memutuskan apakah dia lebih memilih dipanggil “kamu” yg terdengar agak2 kurang formal, bahkan sedikit tdk sopan atau “Ibu Inara” yg membuatnya terdengar tua, olehnya. Dia blm sempat memutuskan ketika dia mendengar suara pak Danung.

“Tolong datangnya stelam jam tiga sore, soalnya Revel ada rekaman malam ini, jd kami nungkin baru bs berfungsi sekitar jam segitu,” ucapnya dgn suara lembut. Ina langsung tahu bahwa pak Danung lbh enank diajak kompromi daripada pak Siahaan.

Revel dan pasukannya kemudian berdiri untuk bersalaman dgn pak Sutomo dan Ina. Ina langsung menyadari betapa tingginya tubuh Revel. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tetapi tubuh Revel yg besar itu pada dasarnya telah memenuhi sluruh ruang pertemuan sehingga Ina hrs menahan diri agar tdk mundur selangkah untuk menhindari bayangannya. Dia merasa agak sedikit terintimidasi oleh Revel. Suatu hal yg sgt jarang terjadi. Sebagai wanita yg sering menerima komentar, bahkan sindiran karena bertubuh mungil, dia belajar untuk mengintimidasi orang dgn otaknya smenjak SMP dan selama ini usahanya slalu berhasil karena tdk ada orang yg bs membuatnya takut dam merasa tdk nyaman, hingga sekarang. Dia mengontrol rasa terintimidasinya dan membuka pintu untuk keluar ruang pertemuan. Dia dan pak Sutomo mengiringi Revel dan pasukannya hingga ke lift. Dalam perjalanan, dia menyempatkan diri untuk memperhatikan Revel dgn lebih jelas. Oh my God, is he wearing a pink shirt? He is wearing a pink shirt!!! Gimana bs dia merasa terintimidasi oleh laki2 yg mengenakan kemeja warna pink ke business meeting?

Revel membiarkan kroni2nya jalan duluan dgn pak Sutomo, sementara dia berjalan disamping Ina.

“Kamu ada acara apa besok?” Tanyanya.

“Ngambil kue ultah keponakan saya,” jawab Ina. Kemudian dia meutup mulutnya, seakan-akan terkejut karena sudah membagi informasi itu kepada orang yg baru dia kenal kurang dr stengah jam, tp kemudian dia menambahkan, “Besok adalah ultah ke delapan belas keponakan saya dan saya sudah janji untuk bawain kuenya.”

Revel baru akan mengatakan permohonan maafnya, tetapi kata2 itu terpotong oleh suara pak Danung yg sedang berpamitan dgn pak Sutomo. Revel pun bersalaman dgn bos Ina itu dan menganggukkan kepalanya kepada Ina sbelum memasuki lift.

“Kami tunggu besok sore,” ucap pak Siahaan sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Ina yg mengangguk, dan tertutuplah pintu lift.

BAB 2 (1) » The Half Naked Man

Tepat pukul dua siang Ina sudah tiba di kantor Revel yg terletak di kawasan Menteng, ditemani oleh Marko yg bersedia membantu Ina untuk menangani account penyanyi itu. Ina agak2 bengong jg waktu smp disana, karena bangunan itu kelihatan lebih sperti rumah supermewah empat lantai yg serba putih, daripada kantor. Satpam di depan pintu gerbang mempersilahkan mobil Ina masuk ke halaman depan dan memintana untuk parkir di satu tempat yg memang sudah disediakan.

Ina dan Marko melangkah mendekati pintu utama dan siap untuk mengangkat door knocker ketika tiba2 pintu sudah terbuka dan pak Danung menyambut mereka dgn hangat.

“Ibu Inara…. susah cari alamatnya?” Tanya pak Danung sambil menyalami Ina, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Marko.

“Nggak koq,” balas Ina sbelum kemudian memperkenalkan Marko.

Ina kemudian melangkah masuk ke dlm rumah itu dan langsung disambut oleh hiruk-pikuk orang2 yg sedang bekerja. Sekurang2nya tiga orang sedang sibuk di depan komputer dan dua orang sedang menjawab telepon. Ternyata bkn dia saja yg harus bekerja pada hari Sabtu. Meurut observasinya, pada dasarnya ruangan itu hampir tdk ada sekatsama sekali dan dikelilingi oleh kaca, sehingga tdk membutuhkan lampu klo siang hari, membuatnya terlihat sangat alami dan fresh. Semua orang bekerja di atas meja dr kaca dgn bentuk ergonomis, yg dilengkapi dgn flat panel Apple.

Kemudian Ina melihat Jo alias Johan Brawijaya, penabuh drum band Revel, yg kelihatan super cuek dgn celana kargo dan kaos putih. Johan memang terkenal dgn julukan “drummer paling ganteng di Indonesia” karena tampangnya memang “bening” bgt. Jo sedang duduk di sofa merah yg supertrendi sambil mendiktekan suatu surat dgn suaranya yg berat pada seorang wanita yg sibuk mengetik di laptop. Jo dgn rambut gimbal dan gaya punk-nya memang kelihatan sgt berbeda dgn Revel yg serba rapi, tp kemudian Ina ingat Revel dulu juga gayanya sperti Jo dan dia mengerti knapa mereka bs cocok.

“Jo, kenalin ini Ibu Inara dan Marko, mereka akuntan barunya Revel,” ucap pak Danung sambil melangkah mendekati Jo.

Ina bertanya2 knapa juga sih pak Danung tetap memanggilnya dgn “ibu” sedangkan Marko g jelas2 lbh tua darinya bs dipanggil namanya saja.

“Johan,” ucap Jo dgn ramah dan penuh senyum sambil menyodorkan tangan kanannya. Ternyata selain ganteng, Jo juga ramah sekali.

“Revel mana, Jo?” tanya pak Danung.
“Di atas. Kalian mau ketemu Revel?” Tanya Jo pada Ina dan Marko yg mengangguk atas pertanyaan ini.
“Yuk, saya antar ke atas,” ajaknya.
“Ke atas?” Tanya Ina smakin bingung.
“Iya, mau ktemu Revel, kan?” Sambil terus berjalan ke arah tangga disamping pintu masuk.

Ina melirik kepada pak Danung untuk mendapatkan izin darinya, tp beliau sedang sibuk dgn salah satu stafnya. Marko hanya mengangkat alis kanannya dan mengikuti Jo. Ina pun tdk punya pilihan selain melakukan hal yg sama.

Ketika tiba di lantai dua, Ina langsung berhadapan dgn suatu area terbuka yg ternyata adalah area kolam renang berukuran stengah olympic. Dia masih sibuk mencoba untuk tdk melongo karena kagum dgn arsitektur rumah ini, ketika dia mendengar Jo menggumam, “kemana lg nih anak, perasaan tadi disini.”

Jo berjalan menyusuri sisi kolam renang itu untuk menuju ke tangga kayu lebar yg menuju ke lantai tiga. Sebisa mungkin Ina mencoba untuk mengikuti langkah Jo yg lebar2 itu.

“Kita ke kamarnya saja,” ucap Jo lagi. Dan tanpa menunggu jawaban, dia langsung menaiki dua anak tangga sekaligus.

“Kamar?” Tanya Ina semakin bingung.
Jo memandanginya heran sambil terus menaiki tangga. “Lho, memangnya ibu ina nggak tahu ini rumahnya Revel?” Tanyanya.

“Panggil saya Ina saja, nggak usah pakai ‘Bu’. Saya blm terlalu tua,” ucap Ina dan Jo mengangguk sambil tersenyum. “Ini rumahnya Revel?” Lanjut Ina, kali ini dgn nada agak ragu.

“Iya, ini kantor manajemen, plus studio rekaman, plus tempat tinggal Revel,” jawab Jo.

Setibanya di lantai atas, Jo langsung melangkah ke kanan dan membuka pintu kayu besar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ina menarik napas dalam2 ketika memasuki ruangan itu karena dia tdk pernah melihat kamar tidur senyaman ini. Lantai tg tertutupi oleh kayu berwarna gelap dan tempat tidur yg terbuat dr kayu antik dgn headboard bernuansa sama. Ina melihat beberapa kerajinan tangan dr bambu yg dia yakin pasti berasal dr daerah Dayak. Ruangan itu terlihat sangat terang, tp tdk ada satu lampu pun yg menyala. Semua penerangan datangnya dr sinar matahari yg masuk dr satu sisi ruangan g terbuat dr kaca dr lantai hingga atap. Dia merasa sperti berada di kamar hotel sebuah resor kelas atas bukannya di sebuah rumah pribadi. Dia tersadar kembali ke realita ketika mendengar Jo berteriak.

Advertisements
Standard